PORTAL BERITA TERKINI BREAKING NEWS
Iklan Header (468x60)

23 Ribu Lebih Warga Lumajang Kena Diabetes, Dua Kasus pada Anak Ditemukan

wong ganteng


23.971 Warga Lumajang Terserang Diabetes, Kasus pada Anak Mulai Ditemukan

LUMAJANG — Diabetes melitus masih menjadi salah satu penyakit yang cukup banyak ditemukan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Lumajang mencatat 23.971 penderita diabetes melitus sepanjang 2025.

Sebagian besar penderita berasal dari kelompok usia dewasa. Namun, penyakit yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan orang dewasa tersebut juga mulai ditemukan pada anak-anak.

Dinkes P2KB Lumajang mencatat sedikitnya dua anak terdiagnosis diabetes melitus pada 2026.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Lumajang, dr. Marshall, mengatakan kasus diabetes pada anak membutuhkan perhatian dan penanganan yang berbeda dibandingkan penderita dewasa.

Menurutnya, diabetes pada anak umumnya berkaitan dengan diabetes tipe 1. Kondisi tersebut terjadi ketika pankreas tidak mampu memproduksi insulin secara memadai.

“Pada anak, kasus diabetes melitus umumnya berkaitan dengan gangguan pada pankreas. Mereka membutuhkan terapi insulin dan biasanya mendapatkan penanganan di rumah sakit,” ujar Marshall.

Karena membutuhkan penanganan khusus, data kasus diabetes pada anak juga lebih banyak tercatat melalui rumah sakit.

Sementara itu, jumlah penderita diabetes sepanjang 2026 masih dalam proses pendataan. Dinkes P2KB Lumajang masih melakukan rekapitulasi dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Data tahun ini masih kami kumpulkan karena teman-teman masih melakukan rekapitulasi. Untuk 2025, tercatat sekitar 23 ribu penderita diabetes melitus,” katanya.

Dewasa Masih Mendominasi

Kelompok dewasa masih menjadi penyumbang terbesar kasus diabetes di Lumajang.

Pada kelompok ini, diabetes tipe 2 lebih banyak ditemukan. Kondisi tersebut berkaitan dengan resistensi insulin, ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara optimal.

Marshall menyebut sejumlah kebiasaan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, seperti kurang aktivitas fisik, terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, merokok, hingga kelebihan berat badan.

“Kalau anak-anak biasanya diabetes tipe 1, sedangkan orang dewasa lebih banyak diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2, insulin tidak bekerja secara optimal sehingga gula tidak dapat masuk ke sel tubuh dengan baik,” jelasnya.

Ketika terjadi resistensi insulin, gula akhirnya menumpuk di dalam aliran darah. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi.

Berbeda dengan diabetes tipe 2 yang banyak berkaitan dengan faktor gaya hidup, diabetes tipe 1 pada anak berhubungan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel penghasil insulin di pankreas.

“Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang pankreas sehingga mengganggu produksi insulin. Akibatnya, anak membutuhkan insulin dari luar yang diberikan melalui suntikan,” kata Marshall.

Pasien anak dengan diabetes tipe 1 membutuhkan pemantauan dan kontrol secara rutin. Penanganan dapat dilakukan di rumah sakit, sementara puskesmas berperan dalam pemantauan kondisi pasien sesuai kebutuhan.

Bukan Berarti Tak Bisa Hidup Normal

Marshall menegaskan diabetes merupakan penyakit yang membutuhkan pengendalian jangka panjang.

Meski tidak dapat disembuhkan secara total, penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari apabila kadar gula darah dikendalikan dengan baik.

“Diabetes tidak dapat disembuhkan 100 persen, tetapi bisa dikendalikan sehingga penderitanya dapat beraktivitas seperti orang sehat,” ujarnya.

Pengendalian gula darah dapat dilakukan melalui pola hidup sehat, obat-obatan, maupun terapi insulin pada kondisi tertentu.

Menurutnya, pengendalian tersebut penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang dapat menyerang berbagai organ tubuh.

Berita Terbaru
Memuat berita terbaru...
Memuat berita terbaru...