Sosok Serka La Rahimu, Ajudan Gubernur Maluku yang Viral Usai Ucapkan Kata “Monyet” kepada Mahasiswa
Nama Serka La Rahimu menjadi perhatian publik setelah sebuah video pengamanan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, La Rahimu terdengar mengucapkan kata “monyet” kepada seorang mahasiswa saat terjadi ketegangan setelah upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon.
Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 11.00 WIT, setelah Hendrik Lewerissa yang bertindak sebagai inspektur upacara selesai memimpin kegiatan dan hendak menuju kendaraan dinasnya.
Saat itu, lima mahasiswa asal kawasan Pegunungan Seram Utara, terdiri dari empat laki-laki dan seorang perempuan, berupaya menemui gubernur untuk menyampaikan aspirasi. Mereka mengenakan ikat kepala berwarna merah yang disebut sebagai simbol perjuangan masyarakat adat Pegunungan Seram Utara.
Para mahasiswa tidak membawa pengeras suara ataupun spanduk berukuran besar. Mereka membawa dua poster serta sepotong bambu yang di dalamnya terdapat surat dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, untuk diserahkan kepada gubernur.
Namun, upaya tersebut tidak berjalan mulus. Ketika mahasiswa berusaha mendekati gubernur, petugas pengamanan menghadang mereka. Situasi kemudian sempat diwarnai aksi saling tarik dan surat yang hendak disampaikan tidak berhasil diterima langsung oleh gubernur.
Di tengah situasi tersebut, terdengar ucapan yang kemudian menjadi sorotan setelah videonya tersebar di media sosial. La Rahimu mengakui bahwa dirinya mengeluarkan ucapan tersebut ketika suasana pengamanan sedang berlangsung.
Setelah video tersebut menjadi viral, La Rahimu memberikan klarifikasi kepada wartawan pada Selasa (18/8/2026). Ia menyatakan dirinya masih menjalankan tugas sebagai ajudan atau pengawal gubernur.
La Rahimu menjelaskan bahwa dirinya baru sekitar satu tahun mendapat tugas mengawal Gubernur Maluku. Sebelumnya, ia bertugas di Pulau Seram selama kurang lebih 16 tahun.
Menurut La Rahimu, sebagai prajurit yang mendapat penugasan, dirinya menjalankan perintah dan petunjuk pimpinan. Ia juga berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara baik dan kepala dingin.
Dalam keterangannya, La Rahimu menyampaikan permintaan maaf atas ucapan yang dilontarkannya. Ia mengakui perkataan tersebut muncul karena terbawa emosi saat menjalankan tugas pengamanan.
Ia menegaskan bahwa ucapan tersebut, menurut versinya, tidak dimaksudkan untuk menghina masyarakat Seram Utara ataupun membawa unsur rasial.
La Rahimu juga menyatakan siap menghadapi konsekuensi apabila mahasiswa yang bersangkutan memilih menempuh jalur hukum.
Ia menjelaskan, saat kejadian, tim pengamanan ring satu tengah membuka akses bagi gubernur untuk menuju kendaraan. Ketika sekelompok mahasiswa datang membawa poster dan bambu, petugas mengaku belum mengetahui isi benda yang dibawa sehingga mereka berupaya memastikan situasi tetap aman.
La Rahimu mengaku telah meminta mahasiswa menyampaikan surat melalui mekanisme resmi di kantor gubernur. Namun, menurut pengakuannya, mahasiswa tetap berusaha menemui gubernur secara langsung.
Dalam situasi yang semakin tegang, ia mengaku keceplosan mengeluarkan ucapan yang kemudian menjadi viral tersebut.
La Rahimu kembali meminta maaf dan berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi kesalahpahaman. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menghina masyarakat Pegunungan Seram Utara.
